Feeds:
Pos
Komentar

HEHOOOO SEMUA,..

Lama tak berjumpa akhirnya balik lagi buat mencurahkan isi hati gua #ciaahlagaknya. Oke kali ini gua bakal ceritain ,.. hmm apayah #mikirkeras.

Owyah berhubung gua suka nonton vidio youtube *aktivitas harian* gua jadi subscribe beberapa akun youtubers yang gua suka. Kayak skinnyindonesian24,radityadika,nigahiga,mega gumelar,dll jd berujung (bukan kata yang gua cari) dr akhivitas harian gua ini gua nonton vidionya mega gumelar yang bahas cabe cabean sama terong terongan klo gg salah vidio 2 tahun lalu “2013” dan udah terbilang telat buat gua bahas 2 hal ini.

CABE alias Cantik Bego entahlah bener apa kagak ini artinya merupakan sebuah istilah konon katanya untuk para remaja putri masa kini yang ngakunya gaul gag jelas dimana di lihat dari sudut pandang penampilan mereka yang gg banget. Heiii!!! Indonesia pliss deh ah cerdas dong ada kok sexy santun, sexy gg mesti CABE juga keleusss… oke ini adalah beberapa opini gua “masih opini tp berani nulis” yailah  oke selanjutnya baca yah

  1. Cabe itu biasanya pakek celana pendek yang balapan sama selangk**gan
  2. Biasanya naik motor metik tuti (tumpuk tiga) sambil ketawa ngakak ini sih katanya mega gumelar .. kebetulan penonton setianya yg mendapat banyak wawasan setelah nonton ke sotoyannya dia.
  3. Pamer belahan dada dimanamana “yailah neng dada ayam ajh masih ada harganya”
  4. Nongkrong tempat elit beli satu porsi tp bayar rame2 *mbuhahah (setan ketawa)
  5. Smsan di jalan gg pakek helm, dan tentunya mereka adalah bagian dari generasi nunduk dimana merka setelah lelah nunduk liat hape berujung nunduk dikantor polisi karna nabrak abang2 bajaj lagi makan bakso pinggir jalan *ehloh
  6. Mereka adalah CABE tanpa panduan kitab keCABEan karna mereka menjadi cabe sebelum mereka diajarkan oleh guru serta sesepuh dua keCABEan
  7. Gag semua cabe sadar kalo mereka CABE *jangan2 yang nulis ini juga CABE” omegotttt!!! Ampuni hamba wahai ruh leluluhur CABE

Itu sedikit gambaran gua soal cabe. Jadi loe bisa bayangin gimana sih cabe itu .cewek2 celana pendek naik motor tumpuk tiga tanpa heln sambil smsan dan ketawa ngakak di jalan.

Sebelumnya gua juga gg ngerti kenapa ada istilah cabe di dunia fana ini apa karna lagi musim hari raya saat buku pertama edisi cabe diterbitkan makanya cabe itu mahal. Awalnya pas sma kelas 1 gua kira ada truk cabe jatuh trus tumpah di jalan dan alhasil nimpa cewek2 yang lagi nangkring di pengkolan, dari sekian banyak cabe yang tumpah ruah kejalan ternyata ada cabe2an di dalemnya . ohh imajinasi yang amat sangat luar biasa dari lubuk hati terdalam gua.

Sebelumnya maaf buat yang ngerasa cabe karna gua nulis ini. Gua nulis ini sebenernya agar menjadi kenangan dimasadepan bahwasanya pernah ada istilah cabe di era 2000an dan agar mudah di cari di internet. Lucu ajh gitu buat gua ketika mereka nanti ngetik CABE di mesin pencarian google yang keluar di internet gak cuman gambar cabe beneran dan ada cabe cabean.Sealay alaynya anak tahun 90an kayak gua seengaknya kita udah dewasa pada saat buku edisi pertama cabe itu keluar,..sooooo… kita udh ngerti apa yang mesti kita lakuin menghadapi era CABE ini.

Sekian dari gua anak tahun 90an yang sedang dalam masa akil balik era cabe ini, salam sejahtera dari gua bat para generasi cabe seluruh dunia.

Iklan

images (19)

by ~~Karuni Sutengsu~~

Ketika seseorang pandai tuk bernyanyi maka aku hanya akan mendengar

Ketika seseorang pandai tuk menari maka aku hanya akan melihat

Tapi ketika sesorang pandai tuk mendengar maka aku akan bercerita

 

Saat pohon bambu membentang membatasi tempat dimana aku duduk dengan indahnya pemandangan danau

Bersamaan dengan riak tawa keluarga kecil di ujung sana

Ketika bau hujan begitu menenangkan

 

Sesaat sebelumnya aku telah menyesal duduk di tempat itu dengan melihat danau

Aku menyesal telah membagi ceritaku dengan seseorang

Ketika pohon telah menjadi saksi terbukanya semua ceritaku

 

Saat danau begitu tenang sambil terngiang di kepalaku tentang suara alunan piano dan biola

Sekali lagi aku telah dan sangat menyesal

Tetes tetes hujan setelah penyesalanku menjadi pengganti air mataku

 

Dalam secarik penyesalanku aku merasakan sebuah kerinduan

Yang Kurindu bukan tentang sebait tawa maupun tentang sebaris senyum

Tetapi lebih dari itu…

Aku merindukan seseorang yang telah berjanji menjaga semua ceritaku

Sesaat setelahnya dia menghilang membawa semua kisahku

 

Kini yang aku sesalkan bukan hanya tentang berbagi kisah dan ceritaku

Tetapi yang aku sesalkan kini telah menjadi kerinduanku 

Membiarkannya pergi membawa buku harianku adalah sebuah kebodohan yang aku rindukan

 

Disini aku kembali menanti untuk kau mengembalikan buku harianku

Bersama dengan merdunya suara pohon dan danau saat saling bersahutan

Aku menantimu… untuk kau mengembalikan semua ceritaku

Aku menyesal telah membaginya

images (10)

Pendongeng Janji

by Karuni Sutengsu

Pertama kali hal itu terdengar indah

Merdu ditelingaku

Menjadi kata yang terukir dihatiku

Aku tersenyum manakala mengingatnya

Kedua kali hal itu menjadi biasa

Hanya sebatas kata-kata dari bibir merahmu

Yang sudah fasih kau ucapkan

Bahkan untuk siapapun

Ketiga kali semuanya membosankan

Hanya bualan bualan manis

Yang biasa terlontar dalam keseharianmu

Bodohnya aku mempercayaimu

Terakhir kali aku akan berbalik badan

Siap melangkah untuk meninggalkanmu

Pendongeng janji yang lebih hebat dari pujangga

Kau berhasil menipuku

15 April 2015 (14:21)

Puisi :Seruling Hitam

brunettes water music dragons flowers kimono drake anime manga japanese lantern japanese clothes ani_wallpaperswa.com_27

Seruling Hitam

by Karuni Sutengsu

Alunan itu,..

Penuh kepalsuan

Tiba pada setiap malam

Membunuh sukma sukma yang sedang tertawa

 

Nada itu,..

Sebuah kebohongan nyata

Yang disampaikan melalui hembus nafas sadis

Seperti sebuah oasis fatamorgana

 

Seruling Hitam penuh kebencian

Setiap nadamu begitu menipu

Mulut mulut manismu

Begitu lihai memainkan nada

 

Seruling Hitam,..

Hentikan…

Biarkan aku keluar dari kebencian ini

Kumohon biarkan aku pergi

Melupakan dan meninggalkan semua

16 april 2015

13:54

1157174-bigthumbnail

Puisi by Karuni Sutengsu

Cinta…

Satu kata ribuan makna

Jembatan kata antara dua hati yang memadu kasih

Penghubung antara langit dan bumi

Bagai senja penghubung siang dan malam

 

Cinta…

Satu kata ribuan makna

Bisikan lembut ditelinga penuh kasih

Bagai suara gesekan ilalang dan angin

Lembut penuh kedamaian

 

Cinta…

Satu kata ribuan makna

Tak tergambar bagai lukisan abstrak

Tak semua orang dapat memahami

Suratan di balik goresan goresan

 

Cinta…

Satu kata ribuan makna

15 April 2015 (21:00)

Kabut dan Malam

Tetes tetes embun mulai hinggap di rerumputan dan mentaripun mulai lelah mengudara. Kini saatnya sang malam menguasai semesta. Segala penjuru mulai tuk memutup pintu pintu. Dan aku mulai terpenjara oleh sang waktu.

Aku terbiasa sendiri, menulis dalam redupnya cahaya bulan. Jendelaku masih terbuka, sejenak ingin menghirup dinginnya angin malam dan acuh pada semua bisikan malam. Aku gadis penuh kesendirian, hanya aku dan buku diary kecilku yang tau bagaimana aku sebenarnya. Terkadang air matakulah yang menulis dan mengisi lembaran diaryku saat jemariku tak bisa tuk mengungkapkan semuanya.

Saat tak ada yang bisa menjawab tanyaku aku hanya terus bertanya pada malam. Kapan saatnya aku tuk keluar dari rasa nyamanku dan mencoba segala sesuatu yang baru?. Hmm.. entahlah, tapi bagaimana bisa seorang gadis yang bahkan sama sekali tak tau bagaimana itu dunia luar bisa keluar dari zona nyamannya?

Aku pernah bertanya, kapan sebenarnya aku memulai dan kapan pula aku harus berhenti tuk tunduk pada kesendirian?? tapi bahkan diriku sendiir tak bisa menjawabnya. Malang memang, bagai kabut di tengah malam. Kabut yang bisa menyesatkan dan ditakuti hingga menbuat hilang arah. Begitupula dengan diriku, tersesat! Ingin keluar tapi tak kunjung kutemukan jalan itu.

Aku masih mencari jati diriku dalam kebingungan, aku masih bertanya pada diriku dan semakin hari semakin banyak pula pertanyaan yang tertumpuk dihatiku bagai kabut malam yang tebal dan sanggup membuatku bingung.

Aku masih menatap keluar jendela sembari memegang pena dan buku diaryku. Entah pertanyaan apalagi yang harus kutanyakan dan yang mana harus kucari terlebih dahulu jawabannya…entahlah yang pasti aku masih nyaman dengan diriku dan suasana saat ini.

cerpen edisi valentine 2015

story by Karuni Sutengsu

Pelangi di Atas Daun Maple

images

November, bulan yang selalu kurindukan. Saat dimana daratan berubah merah,orange dan kuning, tertutupi lembaran lembaran daun maple nan indah jatuh menuju dasar tanah bagai jemari gadis remaja yang menari penuh lekuk. Entah mengapa aku selalu merindukan tempat sepi di pinggir sungai ini dimana berjejer dengan kokoh dan indahnya pohon maple.

Senja kini tiba, saat yang romantis untuk para pasangan muda menikmati bergugurannya daun maple, begitupula dengan diriku yang tak mau terlewatkan meski hanya sedetikpun saat saatku untuk menikmati langit dengan gradasi warna jingga serta pantulan cahaya mentari ke daun yang amat kusuka ini. Disini di tepi sungai yang hangat dan bersahabat aku duduk bersama dengan buku buku novel kesukaanku bersama dengan sahabatku. Tepat dua tahun sudah kami bertemu dan menjadi sahabat. Dia adalah Arlan, pria yang kukenal dengan senyum manis dan kata kata romantisnya.

Arlan sebenarnya bukanlah pribadi yang romantis bahkan mungkin terkesan cuek di mata teman temannya. Arlan bersikap hangat hanya pada orang orang terdekatnya. Karna kecuekannya ia terkenal sebagai pria arogan tapi sangat terkenal di mata teman teman wanitanya.

Saat ini kami hanya berdua di bawah pohon maple memandangi langit senja hari, hingga setelah beberapa saat yang hening dan tenang telah membuat hangatnya sinar menari merasuk hingga ke sukma kami. Suasana sendu serta hanya terdengar riak air sungai yang mengikuti lintasannya dan gemerisik dedaunan yang jatuh membuatku merasa sangat nyaman dan damai tapi suasana begitu membosankan ketika kami hanya duduk hening dan tanpa mengucapkan sepatah katapun satu sama lain.

Aku mulai membuka lembaran novel yang sebelumnya belum sempat aku selesaikan membaca. Aku hanya terus berusaha memaknai kata demi kata yang tertulis berjajar rapi membentuk barisan dengan begitu banyak makna di setiap katanya. Tanpa sadar aku menjadi acuh dan tak menghiraukan Arlan yang masih duduk memandang langit jingga.

Beberapa saat yang sepi kini berubah dengan suara gerakan tubuh Arlan. Dia seperti menangkapi daun yang jatuh di hadapannya entah apa yang dia lakukan, aku masih merasa kebingungan. Di benakku terbersit Arlan mungkin hanya mengagumi keindahan daun yang jatuh meliuk liuk membentuk tarian indah. Pria yang penuh teka teki, lalu dia mulai menanyakan padaku apa aku membawa sebuah pena, tentu saja aku membawanya karna aku juga berniat untuk menulis diaryku disana. Hal aneh apalagi yang ia akan lakukan setelah meminjam pena. tapi Arlan mulai melangkah kebelakang pohon dan duduk disana dengan membawa pena dan dedaunan yang ia ambil barusan.

Hening semakin hening. Arlan tetap duduk di belakang pohon hingga hujan gerimispun tiba membuat suasana baru di tempat kami berada. Kami tidak berpindah dari bawah pohon ini karna tidak ada tempat berteduh selain pepohonan ini.

Arlan datang padaku, duduk dan membawakan tumpukan daun maple berwarna merah dan orange padaku. Aku masih heran, tapi saat ku buka lembar ke dua daun tersebut, telah berisi untaian kata demi kata yang membuatku semakin mencoba untuk menerka.

“Disini dua tahun lalu” daun kedua

“kita saling bertemu” daun ketiga

“kita saling memandang” daun keempat

“saling berkenalan dan berbincang” daun kelima

“tepat sudah dua tahun” daun keenam

“aku semakin mengenalmu” daun ketujuh

“sudah saatnya kau mengetahui” daun ke delapan

“mungkin aku terlalu takut” daun kesembilan

“bahkan untuk mengatakan ini padamu” daun kesepuluh

“maka dengan daun ini” daun kesebelas

“aku sampaikan bahwa” daun keduabelas

Daun maplenya telah habis ku baca. Lalu apa selanjutnya? Itu yang sedang aku pikirkan.

“bahwa aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu. Aku harap kau mengerti apa yang sedang aku rasakan saat ini. Aku hanya akan mengatakannya ini sekali maka dengarlah baik baik. Maukah kau mencintaiku juga? .. dan bersediakah kau mengikrarkan janji bersamaku sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai?” lanjut Arlan setelah aku selesai membaca daun daun maple yang berisi tulisan itu.

Aku sejenak berfikir, apakah ini sudah saatnya untuk kita saling mengenal lebih dari sebatas sahabat? Sudah sejauh inikah yang terjadi? Begitu banyak yang ada di benakku. Tapi aku yakin dengan ketulusan kata kata Arlan.

“Aku… mencintaimu” itulah yang aku katakan.

“Aku mencintaimu dan aku akan lebih mencintaimu setiap saatnya” lanjutku

Bersama jingganya langit, gemerisik suara daun berguguran, riak air serta pelangi yang baru saja muncul bagai menjadi melodi dalam lagu dan bagai menjadi bait dalam puisi. Begitulah kami sepasang sang saling melengkapi dan sama sama menyukai indahnya musim gugur. Musim gugur yang selalu aku rindukan.

—-The End—-